Friday, 26 August 2011

Tarikat Ahlul Bait 1


Oleh:
Habib Hasan bin Mohammad Al-Attas
www.shiar-islam.com
1. Muqaddimah
Berbicara mengenai tarikat, maka ia tidak boleh terpisah dari tasawwuf, karena tarikat adalah salah satu cabang dalam dunia tasawwuf. Tassawwuf pada dasarnya adalah pengelolaan diri dan pembentukan karakter (watak) serta membelenggu atau mengikis hawa nafsu yang tak baik, demi mencapai bersihnya jiwa. 

Selanjutnya, dalam usaha pendekatan diri kepada Allah S.W.T. tidak jarang seorang sufi meninggalkan gemerlapnya dunia, bahkan keluarga dan masyarakatnya untuk berkhalwat (menyendiri) dan mengembara. Ditengah penyepiannya seorang sufi melipat gandakan ritualnya dengan memperbanyak zikir, salat-salat sunnah. Disinilah kaum sufi sebahagiannya ada yang terjebak dalam bid’ah karena mengamalkan amalan-amalan ritual yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W. maupun para sahabat-sahabatnya. Mereka adakalanya memasukkan dalam agama unsur-unsur yang tidak sepatutnya dimasukkan.

Ada kalanya seseorang sufi sampai pada maqom tertentu, ia merasa rendah kepada orang lain dan menganggap dialah orang yang paling sempurna ritualnya, tidak mau berjamaah lagi, malah ada yang telah meninggalkan solat wajib karena ia merasa sudah sangat dekat dengan tuhannya, bahkan tuhan telah ‘menyatu’ dalam dirinya (wihdatul wujud). Na’udzu billah min dzalik. 

Jika kita kembali kepada lembaran sejarah Rasulallah S.A.W. dengan para sahabatnya, maka pendidikan dan pengajaran dan contoh teladan yang diberikan oleh Rasulallah s.a.w. yang sepatutnya kita jadikan tauladan. Dimana Rasul s.a.w., dan para sahabatnya melihat dunia ini bukan sesuatu yang hina, melainkan ianya (dunia) sebagai lahan (ladang) untuk dimanfaatkan untuk dipetik hasilnya didunia dan di akhirat. Ibadah dalam hal ini, perlulah dipahami dengan maknanya yang luas, tidak hanya terfokus kepada aspek ritual, seperti solat, puasa. Melainkan lebih dari itu ibadah juga mempunyai aspek social, seperti bekerja, mencari rezeki yang halal, demi untuk menghidupkan keluarga, menuntut Ilmu untuk mendidik generasi muda dan anak cucu. Ibadah dalam arti yang luas itulah tujuan utama diciptakanNya manusia bahkan jin, sebagai termaktub dalam firmanNya, yang bermaksud:”Sesunguhnya Aku tidak menjadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (al-Zariat: 56)

Ibadah solat biasanya kita lakukan dalam masa lebih kurang lima atau sepuluh menit sahaja, sehari semalam solat 5 waktu, berarti 5 x 10 menit = 50 menit. Demikian pula puasa dibulan Ramadhan, biasanya dilakukan selama bulan Ramadhan. Jadi bagaimana masa yang terluang lainnya, sehari semalam 24 jam ? 

Islam adalah agama yang sempurna, Islam meliputi semua bidang kehidupan manusia. Jika kita perhatikan Al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w., maka jelas kepada kita, Allah S.W.T.mengingatkan kita, supaya tidak melupakan nasib kita di dunia. Ummat Islam adalah ummat yang terbilang, al-Quran mengajar kita supaya kita bahagia di dunia dan sejahtera di akhirat.

Ibarat sebuah aliran sungei, dunia ini harus dilewati dan disebarangi, tetapi jangan sampai larut dan hanyut oleh arusnya yang deras. Karena letak kebahgiaan yang hakiki bukanlah pada tumpukan harta, wang yang berjuta-juta, kenderaan, atau rumah yang mewah, kebahagian sejati terletak pada hati yang bersih yang selalu dekat dengan Ilahi. Sekali lagi tidaklah berarti kita lari dari dunia dan menyendiri dan meninggalkan tanggung jawab kita kepada diri, keluarga dan masyarakat ramai. Terlebih lagi jika ritual dan zikir itu tidak berdasarkan al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w.

Pada suatu hari Rasulallah s.a.w. mendengar tiga orang sahabatnya sedang memberikan pandangan masing-masing, tentang keazaman mereka masing-masing setiap harinya . Sahabat pertama berkata kepada sahabatnya yang lain: “Saya akan solat malam terus menerus tanpa tidur.” Berkata pula sahabat yang kedua: “Saya akan berpuasa setiap hari sepanjang tahun.” Berkata pula sahabat yang ketiga:”Saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan menikah selama-lamanya.” 

Mendengar perbincangan tersebut Rasulallah s.a.w. menghampiri mereka dan bersabda:
“Demi Allah saya adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah S.W.T, tetapi saya tidak mengamalkan ibadah seperti apa yang kamu sebutkan tadi. Saya juga berpuasa, tetapi tidak terus menerus, ada kalanya saya tidak berpuasa. Saya juga solat malam, tapi saya juga tidur sebelumnya. Saya juga menikah. Itulah sunnahku, siapa yang benci kepada sunnahku maka ia tidak termasuk dalam golonganku.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dari nasihat Nabi s.a.w. tersebut, kita patut memahami, bahwa seseorang Muslim, dalam memandang kehidupan dunia ini, patut berpandukan kepada asaz keseimbangan supaya kita hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Seorang Muslim perlulah menjadikan kesempatan hidup didunia ini, sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat. Al-Quran dan sunnah Nabi s.a.w. telah membuktikan bahwa Ummat Islam dibawah pimpinan Nabi s.a.w. adalah sebaik-baik ummat, mereka terbilang dalam semua bidang yang membawa munafaat kepada semua. Rasulallah s.a.w. telah berjaya menjadikan Ummat Islam ketika itu kuat dalam semua bidang, zahir dan bathin. Meskipun jumlah ummat Islam ketika itu belum seberapa, akan tetapi dalam masa yang singkat (23 tahun) Nabi s.a.w. telah berjaya mengatasi semua ummat lainnya. Ketaqwaan ataupun keimanan mereka kepada Allah s.w.t. begitu kuatnya, sehingga mereka berani mengorbankan kepentingan peribadi, demi menjunjung perintah Allah s.w.t. dan mencintai diri Nabi s.a.w. melebihi dari mencintai diri, atau keluarganya sendiri. Oleh karena itu ummat Islam memiliki kekuatan dalam mengalahkan musuh dalam semua lapangan, dan ummat Islam menjadi contoh teladan bagi ummat lainnya. Ummat Islam menjadi sebaik-baiknya Ummat.

Kita hidup didunia ini hanya sementara sahaja, bagaikan musafir yang sedang dalam perjalanan. Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dalam tingkah laku kita supaya tidak melakukan sesuatu yang akan merugikan diri kita sendiri. Kita sedar bahwa kita tidak berada lama disitu dan akan pulang kembali ketempat yang sebenarnya. Seorang musafir perlulah membekalkan dirinya untuk perjalanan selanjutnya, jangan sampai tidak mempunyai bekal yang diperlukan. Begitulah seorang hamba Allah perlulah menyedari, bahwa kita berada didunia ini hanya sementara waktu sahaja. Oleh karena itu perlulah kita gunakan dunia ini sebagai tempat kita menyediakan segala sesuatu untuk menjadi bekal bagi kita di akhirat nanti. 

Rasulallah s.a.w. mengajarkan ummatnya supaya tidak silau dengan keindahan dunia, kita diajarkan supaya hidup sederhana namun penuh berkah. Keberkahan itu datang ketika seseorang senantiasa ikhlas dan ridho dengan rezeki yang diterima. Kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya harta, tetapi terletak pada keberkahan harta. Allah S.W.T., menyuruh Nabi s.a.w. menyampaikan kepada keluarganya, sebagaimana firmanNya yang bermaksud:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Kalau kamu menghendaki (gemerlapnya) kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah akan aku kabulkan keinginan kamu, (tetapi) kuceraikan kalian dengan perceraian yang baik. Akan tetapi jika kamu menghendaki Allah dan RasulNya serta kampung akhirat, sesungguhnya Allah telah menyediakan pahala yang besar untuk orang-orang yang berbuat baik diantara kamu. (al-Ahzab:29)

Tarikat Ahlul Bait:
Tarikat Ahlul-Bait, adalah suatu perjalanan meninggalkan keinginan dan kepentingan diri, menuju kehendak Allah s.w.t. berpandukan al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w. Oleh itu apa yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya, menjadi panduan bagi Tarikat ini. Ada masanya mereka beruzlah (pengasingan diri), menghening cipta tentang kebesaran Allah s.w.t., membaca al-Quran, membanyakkan solat-solat sunnat, ratib (susunan ayat-ayat al-Quran), wirid (zikir.do’a, dan selawat ) 

Dalam Tarikat Ahlul Bait kita dapati kewajiban menuntut Ilmu Pengetahuan yang berguna, mengerjakan amal perbuatan yang baik dan terpuji, berdo’a memohon ampunan Ilahi, memperbanyak solat sunnat, ratib dsb. Mereka hanya takut kepada kemurkaan Allah s.w.t. Mereka berusaha menjadi orang yang wara’ (meninggalkan segala yang meragukan atau syubhat). Ada masanya pula mereka berjuang di jalan Allah menegakkan keadilan dan kebenaran, menentang segala bentuk kezaliman, untuk membela mereka yang tertindas. Ada masanya mereka mencari rezeki yang halal, untuk keperluan keluarga sambil berdakwah, menyebarkan Islam keseluruh pelosok dunia. Mereka lakukan semua itu dengan ikhlas, dan budi pekerti yang mulia. Inilah Tarikat Ahlul Bait.

Arti Ahlul-Bait

Ahlul Bait adalah Keluarga Rasulallah s.a.w. yang terdekat , Allah berfirman
إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الِّرجْزَ أَهْلَ اْلبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرُا
(الأحزاب: 33)
Maksudnya :”Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu dengan sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab:33).

Ayat ini diturunkan kepada Rasulallah s.a.w. ketika Nabi s.a.w. berada dirumah Ummu Salamah (isteri Rasulallah s.a.w.). Kemudian Rasulallah s.a.w. memanggil Al-Hasan, Al-Husein (cucunda kesayangan Nabi s.a.w.) dan Fatimah Azzahra (putri kesayangan Nabi s.a.w.) ketiga-tiganya diminta duduk di depan Nabi s.a.w., dan memanggil saidina Ali bin Abi Thalib (menantu dan juga anak paman Nabi s.a.w.) dan diminta duduk di belakang baginda. Kemudian Rasulallah s.a.w. menyelimuti diri bersama mereka dengan Kisa’ (semacan selimut besar dan tebal) seraya bersabda:

”Ya Allah mereka Ahlu Baitku, maka hilangkan kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.”1

Ketika itu Ummu Salamah cuba turut masuk kedalam selimut, Nabi s.a.w. menegahnya dan bersabda:”Sesungguhnya engkau juga berada dalam kebaikan (diulangi sebanyak tiga kali).

Hadits Kisa’ berasal dari Muhammad bin Sulaiman Al-Asybahani, dari Yahya bin Ubaid Al-Makki, dari Atha bin Abi Rabbah, mengatakan:” bahwa Umar bin Abi Salamah (anak tiri Rasulallah s.a.w.) berkata: “ Bahwa sewaktu: ayat 33 s.al-Ahzab diturunkan kepada Nabi s.a.w. , baginda berada dirumah Ummu Salamah, dan Nabi telah bersabda, seperti apa yang telah disampaikan diatas.

Ramai ahli tafsir, ahli hadis dan ahli sejarah berpendapat kandungan ayat ini ditujukan kepada Fatimah binti Muhammad (SAW), suaminya dan anak-anaknya. Pendapat ini dinyatakan oleh Imam al-Wahidi dalam kitabnya Asbabun Nuzul hal 239, Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya Juz 14 hal 183, Sahib al-Dur al-Manthur dalam tafsirrnya Juz 5 hal 454-455, Imam Muslim menyebut dalam sahihnya juz 15 hal 195, siapa Fatimah ?2 

Fatimah Azzahra adalah puteri kesayangan Rasulallah s.a.w., isteri seorang pemimpin dan ibu para syuhada’. Bundanya ialah Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mukminin, yang merupakan seorang isteri yang mukminah, sabar dan bijaksana. Khadijah sentiasa di sisi suaminya (Rasulullah s.a.w.) memberi sokongan padu, meringankan bebanan baginda serta menyerahkan harta benda yang dimilikinya kepada baginda apabila diperlukan. Apabila Jibril menurunkan wahyu di Gua Hira’, baginda pulang kepadanya menceritakan apa yang berlaku dan mengucapkan:

” Selimuti aku ! Ia segera diselimuti, tubuhnya menggigil seperti orang yang demam, disebabkan kehebatan wahyu yang baru diterimanya di Gua Hira’. Nabi bersabda kepada isterinya Khadijah:” Kenapa aku ? Kemudian Nabi s.a.w.menceritakan apa yang telah di alaminya, ketika berada digua Hira.”

Khadijah mendengar kisah baginda ini dengan teliti dan memberikan pendapat yang bernas sekaligus dapat meringankan beban yang sedang ditanggung Nabi s.a.w. ketika itu. Katanya kepada Rasulallah s.a.w.: 

“Allah memelihara kita, wahai Abu Qassim ! Gembiralah dan tetapkanlah! Demi diri Khadijah di dalam penguasaan-Nya, aku berharap agar kamu menjadi Nabi ummat ini. Demi Allah ! Dia tidak akan mengecewakanmu buat selama-lamanya. Sesungguhnya kamu ini menghubungkan tali persaudaraan, bercakap benar, menanggung bebanan, memuliakan tamu dan menolong orang dalam kesusahan.”3 

Suami Fatimah adalah Imam Ali bin Abi Thalib (r.a) yang pernah disabdakan Nabi seperti berikut: “Tidakkah kamu berpuas hati dengan kedudukanmu di sisiku sebagai kedudukan Harun di sisi Musa, hanya tiada lagi nabi selepasku”.4 

Hasan dan Husein merupakan dua pemuda ahli syurga yang disabdakan Nabi sebagai berikut: “Mereka berdua adalah anak-anakku dan anak-anak puteriku. Ya Allah, ya TuhankuAku mengasihi kedua-duanya maka kasihilah mereka dan kasihilah orang yang mengasihi mereka.”5 

Rasullah s.a.w.,juga bersabda:
“Semua anak yang dilahirkan oleh ibunya, bernasab kepada ayah mereka, kecuali anak-anak Fatimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka, dan akulah ayah mereka.”(Hadis Riwayat Imam Ahmad oleh Assyuyuti dalam kitabnya “Al-Jami’il Kabir)’
Kebanyakan tarikah yang terkenal, pendirinya adalah dari keturunan Ahlul Bait seperti:
  • Tarikah Al-BaAlawi pendirinya ialah As-Sayyid Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba Alawi Al-Huseini.
  • Tarikah Qadiriyah pendirinya Assayyid As-Syaikh Abdul Qadir Jailani
  • Tarikah Naqsyabandi pendirinya As-Sayyid Asy-Syaikh Bahauddin Naqsyabandi.
  • Tarikah Ahmadiyah Idrisiah pendirinya Assayyid As-Syaikh Ahmad bi Idris al-Hasani.
  • Tarikah Syadziliyyah pendirinya As-Sayyid As-Syaikh Abi Hasan Asy-Syazuli
Silsilah ajaran mereka kebanyakannya melalui Imam Ja’far As-Shiddiq, semuanya mendapat sanad dari Imam Ali bin Abi Thalib, kecuali Tariqah Naqsyabandiah mendapat sanad dari Saidina Abu Bakar Assidiq.



Sumber: http://habibhasanalattas.blogspot.com/2009/12/tarikat-ahlul-bait-1.html

1 comment:

  1. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait menjadi universal:

    1. Kedua orang tua para nabi/rasul;.

    2. Saudara kandung para nabi/rasul.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah bukan termasuk kelompok ahlul bait.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta 'ahlul bait' yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein maupun yang perempuan bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    ReplyDelete