Friday, 26 August 2011

Teori Jiwa Manusia



SEBUAH teori tentang manusia dalam ajaran Thariqat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) yakni konsep pentingnya jiwa (nafs). Kenapa penting? Karena jiwa ini berhubungan dengan sebuah keyakinan seseorang. “Barang siapa mengetahui nafs (dirinya), maka ia mengetahui Tuhannya.” Dapat ditafsirkan dari maksud pernyataan tersebut adalah siapa saja yang mengetahui kelemahan, kehinaan dan kebodohan, kefanaan, dan keterbatasan dirinya, maka ia pasti akan mengetahui kemuliaan, kekuasaan, kemaha-tahuan, dan kebaqaan Tuhannya… Mengenai pentingnya pengetahuan untuk mengetahui hakikat dirinya, dipertegas dan disandarkan pada firman Alloh SWT :
“Dan barangsiapa yang buta hatinya di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta pula dan lebih tersesat dari jalan yang benar. (Q.S. al- Isro : 72 )
Dalam pandangan TQN, jiwa (nafs) adalah kelembutan yang bersifat ketuhanan. Kelembutan ini sebelum bersatu dengan badan atau jasmani manusia disebut dengan al-ruh, dan ruh yang tadinya suci bersih ketika telah masuk dan bersatu dengan jasad, maka terjadilah kontaminasi lingkungan sehingga menimbulkan potensi kesadaran (ego).
Jiwa yang diciptakan oleh Alloh sebelum bersatunya dengan jasad kasar dunia, ia bersifat suci, bersih dan cenderung mendekat kepada Alloh dan mengetahui akan Tuhannya. Akan tetapi setelah ruh tersebut bersatu dengan jasad akhirnya ia melihat (mengetahui) yang selain Alloh, dan oleh karena itu terhalanglah ia dari Alloh karena sibuknya dengan yang selain Alloh itu. Itulah sebabnya ia perlu dididik, dilatih dan dibersihkan agar dapat melihat, mengetahui dan berdekatan dengan Alloh SWT sebagaimana sebelumnya.
Dan ruh yang masuk dan bersatu dengan jasad manusia, menurut para Ulama memiliki lapisan-lapisan kelembutan atau disebut dengan latifah, dikatakan bahwa tujuh latifah yang ada pada diri manusia itu adalah al-nafs atau jiwa. Jadi jiwa menurut pandangan TQN memiliki tujuh lapis berasarkan nilai kelembutannya, yaitu: 1. al-nafs al-amarah, 2. al-nafs al-lawwamah, 3. al-nafs al-mulhimah, 4. al-nafs al-muthmainah, 5. al-nafs al-radiyah, 6. al-nafs al-mardiyah, dan 7. al-nafs al-kamilah.
Sedangkan latifah pada tahapan selanjutnya digunakan sebagai istilah praktis yang berkonotasi tempat. Latifah al-nafsi sebagai tempat al-nafs al-amarah, latifatul qalbi sebagai tempat al-nafs al-lawwamah, latifatu al-ruhi sebagai tempat nafs al-nafs mulhimah, dan seterusnya sehingga terjadi perubahan sebutan setelah bersatu dengan badan menjadi :
1. Latifat al-nafs berubah menjadi nafs al-amarah,
2. Latifat al-qalbi berubah menjadi nafs al-lawwamah,
3. Latifat al-ruhi berubah menjadi nafs mulhimah,
4. Latifat al-sirri berubah menjadi nafs mutmainnah,
5. Latifat khafi berubah menjadi nafs al-rodiyah,
6. Latifat al-akhfa berubah menjadi nafs mardiyah,
7. Latifat al-qolab berubah menjadi nafs al-kamilah.
Oleh karena itu al-anfus (jiwa-jiwa) tersebut memiliki ciri-ciri mistis yang sama dengan latifah-latifah tersebut.
1. Jiwa Lawwamah
Jiwa ini adalah suatu kesadaran akan kebaikan dan kejahatan, sehingga ia suka mencela (al-laum) baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Jiwa ini terkadang menimbulkan semangat untuk berbuat baik tetapi juga terkadang muncul keinginan untuk maksiat kepada Alloh, akibatnya muncul penyesalan.
Pusat pengendaliannya pada latifatul qolbi yang berada di bawah susu kiri sekitar jarak dua jari yang condong ke kiri, dibawah susu kiri. Jiwa ini di bawah dominasi sembilan sifat-sifat jelek manusia yaitu: al-laum (suka mencela), al-hawa (senang menuruti hawa nafsu, al-makr (makar atau juga menipu), al-’ujub (membanggakan diri), al-gibah (menggunjing), al-riya (pamer atas amal dan prestasinya), al-dulmu (menganiaya, tidak adil), al-kidzbu (berbohong, al-goflah (lupa dari mengingat Alloh).
Walaupun jiwa ini mendominasi manusia dengan sifat-sifat jelek tersebut, tetapi latifah al-qolbi ini merupakan tempatnya sifat-sifat baik yaitu iman atau keyakinan akan kebenaran syari’ah, penyerahan diri kepada ketentuan-ketentuan syari’ah Alloh.
2. Jiwa Mulhimah
Jiwa ini merupakan kesadaran yang mudah menerima intuisi (ilham) dari Alloh SWT berupa pengetahuan. Jiwa ini juga melahirkan adanya kesadaran bersifat tawadu’ atau merendahkan diri, qona’ah atau menerima apa adanya.
Pusat pengendaliannya pada latifatur ruhi yang berada di bawah susu kanan berjarak kira-kira dua jari. Ia memiliki hubungan dengan paru-paru manusia. Menurut TQN jiwa mulhimah memiliki tujuh sifat yang dominan yaitu: al-shakhowah (dermawan), al-qona‘ah (tidak rakus), al-hilmi (lapang dada), al-tawadu’ (merendahkan diri), al-taubah (bertaubat), ash-shobru (tahan uji), al-tahamul (tahan menjalani penderitaan).
Di samping adanya dominasi sifat-sifat baik tersebut, dalam jiwa mulhimah ini bersarang jiwa rendah/ kebinatangan, yaitu jiwa binatang jinak (bahamiyah) cenderung menuruti hawa nafsu untuk bersenang-senang semata, terutama kepentingan seksual.
3. Jiwa Mutmainnah
Jiwa ini adalah jiwa yang diterangi oleh cahaya hati nurani, sehingga bersih dari sifat sifat yang tercela dan stabil dalam kesempurnaan. Jiwa ini merupakan starting point untuk kesempurnaan, maka apabila seorang salik telah menginjakkan kakinya pada tingkatan ini berarti ia mulai meninggalkan tingkatan thariqat menuju tingkatan hakikat. Dia mampu berkomunikasi dengan orang lain sementara hatinya berkomunikasi dengan Tuhan karena begitu terikatnya dengan Alloh.
Pusat pengendaliannya pada latifatus sirri yang letaknya berada di atas susu kiri jarak dua jari dan condong ke kiri. Jiwa ini didominasi sifat sifat baik yaitu: al-jud (tidak kikir terhadap harta demi untuk ketaatan kepada Alloh), al-tawakkal (bertawakkal kepada Alloh sebagaimana anak kecil berpasrah diri kepada ibunya), al-ibadah (beribadah ikhlas kepada Alloh, al-syukru (mensyukuri ni’mat dari Alloh), al-rido (rela terhadap hukum dan ketentuan Allah), al-khoswah (takut mengerjakan maksiyat kepada Alloh SWT).
Walaupun demikian jiwa ini tetap harus dihidupkan, sebab kalau tidak maka akan muncul sifat-sifat binatang buas (sabu‘iyah), seperti raku, ambisius, menghalalkan segala cara, suka bertengkar dan bermusuhan.
4. Jiwa Mardiyah
Jiwa ini merupakan realitas dari latifah khofi yang sangat lembut dan lebih condong kepada sifat dan kecenderungan latifah ini. Yang bersih suci dekat kepada Alloh, karena jauh dari unsur-unsur jasmaniyah.
Pusat pengedaliannya pada latifatul khofi di atas susu kanan sekitar dua jari dan condong ke kanan.
Menurut TQN jiwa ini didominasi oleh enam sifat baik manusia yaitu: husnul khuluq (baik budi pekertinya lahir bathin), tarku ma siwa Alloh (meninggalkan sesuatu yang selain Alloh), al-lutfu (belas kasihan kepa da semua makhluk), hamlul ahlak ‘alas shilah (selalu mengajak kepada kebaikan), shofhu ‘anid dzunubil khalqi (mema’af terhadap kesalahan), hubu al ahlaqi wal mail li ihrojihim min dulumati taba’ihim wa anfusihim ila anwar arwahihim (menyayangi mahluk dengan maksud untuk mengeluarkan mereka dari pengaruh tabi’at dan nafsu mereka kepada cahaya ruhani yang suci).
Pada jiwa ini bersarang juga sifat sifat jelek yang berbahaya yaitu sifat-sifat syaitan, seperti hasud dengki hiyanat takabur dan munafiq.
5. Jiwa kamilah
Jiwa ini merupakan penjelmaan dari latifah ahfa. Ia merupakan kelembutan yang paling dalam pada kesadaran manusia. Kesadaran jiwa yang paling bersih dari pengaruh unsur-unsur materi yang lebih rendah.
Pusat pengendalian jiwa ini pada latipatul ahfa yaitu yaitu di tengah-tengah dada manusia. Jiwa ini didominasi oleh sifat-sifat mulia yang sangat utama, yaitu: ilmu yaqin, ‘ainal yakin, dan haqqul yaqin. Selain tiga sifat utama dalam pusat kesadaran (jiwa) ini, maka terdapat sifat ketuhanan (rububiyah), yakni sifat ketuhanan yang tidak semestinya dipergunakan oleh manusia, seperti takabur, ujub, riya, sum‘ah dan sebagainya.
6. Jiwa Amarah
Jiwa ini cenderung pada tabi’at badaniyah, karena dasarnya ia berasal dari unsur jasmaniyah (walaupun bersubstansi latifah karena terlalu lembutnya). Dan nafsu atau jiwa ini pula yang membawa qalb (latifah) ke arah yang lebih rendah, serta menuruti keinginan-keinginan duniawi yang dilarang oleh syari’at.
Pusat pengendaliannya pada latifatun nafsi, yaitu di dahi antara dua alis. Jiwa ini merupakan sumber segala kejahatan dan akhlak yang tercela.
Menurut TQN, jiwa ini memiliki tujuh gejala, yaitu: al-buhl (kikir), al-hirs (ambisi dunia/ materialistik), al-hasad (dengki dan iri hati), al-jahl (bodoh/ susah menerima kebenaran), syahwat (keinginan untuk melanggar syari‘ah), al-kibr (merasa diri besar), al-godob (marah-marah).
Di antara ketujuh gejala nafs al-amarah tersebut, ada tiga hal yang dikatakan oleh Nabi Saw sebagai hal yang merusak, yaitu: kikir yang diperturutkan, hawa nafsu yang selalu diikuti dan merasa bangga atas diri sendiri.
7. Jiwa Radiyah
Jiwa ini merupakan kesadaran ruhaniyah dari latifatul qolab. Oleh karena itu ia bersifat meliputi baik dari aspek ruhaniyah maupun jasmaniyah. Ia merupakan jiwa tertinggi bagi manusia serta realitas manusia sebagai makhluk jasmani dan ruhani hamba Tuhan sekaligus penguasa alam semesta. Manusia sebagai mahluk tertinggi di antara dua alam, yaitu alam malaikat dan alam syaitani.
Pusat pengendaliannya pada latifatul qolab yaitu di seluruh tubuh (badan jasmaniyah) manusia, mulai
dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Adapun sifat-sifat yang dominan yang dimiliki jiwa ini ialah: al-karom (mulia/ dermawan, senang shodaqoh, dan senang beramal jariyah), al-zuhdu (bertapa dari materi, menerima materi yang halal walaupun sedikit dan meninggalkan yang syubhat walaupun banyak, apalagi yang haram), al-ikhlash (memurnikan niatnya kepada Alloh), al waro’ (berhati-hati dalam beramal/ memilih yang baik menurut syari’ah), al-riyadloh (latihan terus menerus untuk menyiksa hawa nafsu dengan selalu menghiasi diri dengan ahlakul karimah dan meninggalkan ahlak hayawaniyah, al-wafa (senantiasa memegang janji terutama janjinya kapada Alloh).
Ketujuh macam dan tingkatan jiwa ini merupakan obyek pembinaan dan pendidikan dalam Thariqat Qodiriyah Naqsyabandiyah, dan sekaligus merupakan gradual dalam sistem tarbiyatud dzikri yang dilakukan secara mutaroqqiyan. Wallohu a‘lam.
(Penulis adalah Dosen STIE-Latifah Mubarokiyah)

Sumber: http://majalahnuqthoh.wordpress.com/2009/09/16/teori-jiwa-manusia/

No comments:

Post a Comment